Sharing Road Map Penelitian bersama 4 orang dosen UGM

Road Map Penelitian

6 Januari, 2017

Road Map Penelitian[S] Dr. Eng. Suharyanto, S.T., M. Eng.
[D] Dr. Eng. F. Danang Wijaya, S.T., M.T.
[Aw] Noor Akhmad Setiawan, S.T., M.T., Ph.D
[Ad] Teguh Bharata Adji, S.T., M.T., M. Eng., Ph.D

[MMN] Sebagai pertanyaan pembuka, kami, masing-masing KBK, sedang menyusun Road Map Penelitian. Darimana dan bagaimana sebaiknya proses ini dilakukan?

[Ad] Jawaban pembuka, bentuk atmosfir dulu. Jauh sebelum hal teknis Road Map Penelitian, atmosfir penelitian harus diciptakan. Kami di UGM secara rutin mengadakan pertemuan dengan mahasiswa bimbingan. Semua mahasiswa persentasi progress penelitian mereka. Jika kualitas hasil penelitian cukup bagus, maka mahasiswa diminta untuk ikut seminar. Dosen pembimbing berkomitmen meluangkan waktu untuk menghadiri pertemuan rutin, mengecek tata bahasa naskah publikasi, dan proaktif menanyakan progress penelitian mahasiswa.

[Aw] Sesekali, pertemuan rutin ini juga mengundang expert atau pihak-pihak terkait untuk menambah wawasan tentang kondisi terkini bidang penelitian. Ini akan turut membangun jejaring dengan pihak luar dan alumni.

Karena keterbatasan waktu, dosen pun sering sharing bahan-bahan atau informasi terbaru kepada mahasiswa. Nanti, mahasiswa diminta menjelaskan apa yang sudah dipelajari dari bahan dan informasi tersebut. Ini yang disebut collaborative learning.

Kami juga menanamkan pesan moral bahwa pembimbing itu adalah rekan seumur hidup mahasiswa. Tidak hanya sekedar hubungan kaku antara pembimbing dan mahasiswanya. Indikator kesuksesan proses bimbingan adalah dosen masih mau sms kepada mahasiswa tentang progress penelitiannya. Jika ada mahasiswa yang berlaku tidak sopan, jangan dimarahi, kasih pengertian.

Dari institusi sendiri sebenarnya sudah ada panduan, namun secara teknis tiap orang tentu punya spesialisasinya. Masing-masing orang punya kekuatan dan bisa dijadikan senjata. Tidak menutup kemungkinan kekuatan tersebut juga saling beririsan. Tidak perlu saling iri, yang diperlukan adalah saling membantu.

[D] Tantangan dalam membangun atmosfir adalah konsistensi. Tentu apa yang kami kerjakan tidak terjadi seketika. Hal ini mulai dibiasakan sejak zaman Pak Lukito ke sini. Dosen-dosen muda pulang ke Indonesia dan berkomitmen menciptakan budaya seperti ini.

Anggap mahasiswa sebagai aset. Dalam hukum intensitas energi, jika semua roda bergerak perlahan, jauh lebih baik daripada ada satu roda yang bergerak kencang. Artinya, daripada dosennya sendiri yang terkenal akan lebih baik jika satu tim bergerak. Bahkan ketika dikejar deadline, tinggal menghubungi beberapa mahasiswa untuk mengirimkan progress, compile, dan upload.

Kami juga memiliki budaya yang meniru kebiasaan ketika saya di Jepang. Di akhir semester/awal semester kami membiasakan membuat acara santai dan happy-happy. Kami gotong royong membersihkan laboratorium dan setelah itu makan-makan. Tujuannya untuk menguatkan ikatan/bond antar mahasiswa dan dosen.

[S] Ya, mahasiswa adalah aset. Tidak bisa dipungkiri kampus membutuhkan mahasiswa, seperti proses akreditasi. Mahasiswa juga membutuhkan kampusnya sebagai almamater. Bahkan ketika membutuhkan surat rekomendasi untuk bekerja dan kuliah lanjut, mahasiswa juga menghubungi kampus dan dosen pembimbing.

Kami juga didukung oleh peraturan terkait kewajiban publikasi. Bahkan ketika dari kementrian mewajibkan publikasi bagi lulusan, momentum itu dimanfaatkan untuk menguatkan atmosfir penelitian dan publikasi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *