Tentang Makna sebuah Campaign "I'm PCR"

Satu minggu belakangan ini, Politeknik Caltex Riau sedang mengadakan campaign untuk meningkatakan awareness terhadap kampus ini. Hal ini dilatarbelakangi momen #15tahunPCR dan dimulainya proses Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2017. Campaign ini dilakukan dengan cara memasang badge

I’m PCR

pada foto profil mahasiswa, dosen, dan alumni PCR di sosial media. Faktanya, kurang dari 12 jam sejak diluncurkan, campaign ini telah diikuti oleh 907 pengguna sosial media dan dalam 3 hari setelahnya melonjak menjadi 1976 dukungan. Ini sebuah angka yang fantastis. Fakta ini menunjukkan bahwa PCR adalah tiga huruf yang lekat dengan memori, tertanam dalam emosi, serta kaya akan pengajaran ilmu. Testimoni dari sivitas akademika dan alumni yang mengikuti campaign ini menceritakan semboyan, ilham, dan pengalaman semasa di PCR. Rangkuman dari testimoni ini dapat diakses melalui tautan berikut ini.

Saya sendiri melihat makna lain dari campaign ini. Makna tersebut adalah silaturahim.

Awalnya saya hanya menekan tombol Like untuk setiap foto pengguna Facebook yang sudah memasang badge tersebut. Saya mengapresiasi orang-orang yang ikut bangga memiliki ikatan dengan PCR. Hal ini nampaknya juga dilakukan oleh mahasiswa, dosen, dan alumni. Mereka saling memberi Like untuk setiap foto yang sudah terpasang badge. Dengan cepat, sebuah foto yang sudah mencantumkan Badge mendapat puluhan Like. Normalnya, hati pengguna akan senang ketika muncul notifikasi dan ada orang lain yang menyukai foto profil mereka. Bukankah membuat senang orang lain adalah bagian dari silaturahim yang baik.

Saya juga melihat beberapa pengguna yang saya hampir lupa bahwa mereka punya akun di Facebook. Dengan campaign ini, pengguna ini tiba-tiba muncul dengan foto profil terbaik mereka yang sudah menggunakan badge I’m PCR. Tidak saya sendiri ternyata yang merasa begitu. Teman-teman mereka juga menyapa mereka setelah mengganti foto dan menanyakan kenapa lama tidak terlihat aktivitasnya di media sosial. Bukankah menyadari kembali eksistensi seorang teman, rekan, dan sejawat adalah sebuah silaturahim yag baik.

Dalam suggested friend, saya dapat dengan mudah mengetahui yang mana mahasiswa atau alumni yang terafiliasi dengan PCR. Mereka yang sudah memakai badge muncul berturut-turut. Dengan mudah pula saya tambahkan mereka kedalam jejaring sosial saya. Bukankah menambah teman adalah bagian dari silaturahim yang baik.

Kemudian, saya tertarik membaca komentar-komentar yang muncul. Beberapa komentar menanyakan bagaimana cara mengikuti campaign tersebut dan dalam rangka apa hal ini dilakukan. Saya tidak mengenal siapa yang memberi komentar dan hubungannya dengan yang memasang badge. Tapi yang saya paham, yang bertanya memiliki perhatian terhadap yang ditanya. Mungkin selama ini kedua orang ini hanya silent observer. Namun sekarang, campaign ini memicu percakapan antar mereka. Bukankan memulai percakapan adalah bagian dari silaturahim yang baik.

Banyak doa didalam komentar-komentar yang muncul. Doa untuk kesuksesan bekerja di PCR dan tetap teguh mendidik anak bangsa didapat oleh beberapa dosen yang memasang badge I’m PCR. Doa agar sehat-sehat diperantauan, lancar dalam kuliah, dan cepat wisuda didapat oleh mahasiswa. Doa tentang kesuksesan di dunia kerja dan di kehidupan didapat oleh para alumni. Bukankah saling mendoakan adalah bagian dari silaturahim yang baik.

Dalam komentar yang menyertai foto profil dengan badge I’m PCR juga terdapat pertanyaan tentang teman yang juga bekerja atau kuliah di PCR. Terdapat salam kabar kepada teman tersebut. Bahkan ada teman yang menceritakan ponakannya yang menjadi lulusan terbaik di PCR. Sebuah kebanggaan yang dibalas doa semoga ponakan tersebut sukses dalam hidupnya. Bukankan sambung menyambung persahabatan adalah silaturahim yang baik.

Campaign ini juga memancing memori-memori yang telah dilewati bersama PCR. Disiplin, rindu, tantangan, cobaan, tercantum dalam quote-quote peserta campaign. Hal ini tentunya kembali mengingat dengan siapa momen tersebut terjadi dan cerita panjang yang menyertainya. Bukankah mengingat kembali kenangan dengan orang-orang terdekat adalah silaturahim yang baik.

Jadi, bagi saya, inilah irisan makna campaign “I’m PCR” yang masih akan berlangsung sampai Desember 2016 ini.

Thus,

I am PCR, You are Next!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *