ABEC 2016: Membangun Budaya Akademik untuk Menyiapkan Generasi 2045

Rabu, 7 September 2016
Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA

IMG-20160907-WA0005[1]

A. Soft joke
Hari ini PCR berulang tahun ke 15, mudah-mudahan tahun besok 16

B. Pengantar
Karaoker lagu Fatin-Memilih Setia sebagai ice breaking. Dibalik maksud ice breaking ternyata ada pesan yang bisa diambil tenatng loyalitas dan kesetiaan

C. Konten
Apresiasi atas kegiatan ABEC yang merupakan kerjasama dari beberapa Politeknik.

Filosofi sperma dan sel telur tentang awal mula kompetisi dalam kehidupan.
Dalam hidup, kerjasama dan kompetisi merupakan dua hal yang bersisian. Kompetisi menstimulasi daya saing. Pemenang adalah yang memiliki daya saing tinggi. Untuk memiliki daya saing tinggi ada 3 hal yang perlu dikuasai yaitu Skill, Attitute, dan Knowledge.

Hindari myopi perspective atau rabun jauh atau ketidakmampuan melihat masa depan dan tren global. Menurut Global Data and Analytics Survey, pada tahun 2020 tingkat kerumitan masalah dan kebutuhan akan kecepatan penyelesaian masalah akan semakin meningkat. Untuk itu diperlukan kemampuan High Order Thinking, Creative, Intuitive Sharpness, dan Decision Support System.

High Order Thinking

Dosen yang kreatif adalah dosen yang bisa membuat soal dengan berbagai jawaban benar. Contoh dalam kasus segi empat dengan panjang dan lebar adalah 4 cm dan 6 cm. Jika segi empat ini dibuka menjadi garis lurus maka diperoleh panjang garis sepanjang 20 cm. Dari garis yang panjang 20 cm ini jika dibangun kembali segi empat kembali, maka ada beberapa variasi panjang dan lebar yang bisa diperoleh yaitu 1×9 cm, 2×8 cm, 3×7 cm, 4×6 cm, dan 5×5 cm. Jika dihitung luas dari variasi tersebut maka diperoleh luas secara berturut-turut 9 cm persegi, 18 cm persegi, 21 cm persegi, 24 cm persegi, dan 25 cm persegi. Jika per cm persegi ini dijual 1 juta, maka harga jual tertinggi diperoleh pada 25 cm persegi sebesar 25 juta. Yang bisa diambil pesan dari perhitungan ini, untuk panjang garis yang sama, bidang datar yang sama, dan harga per cm persegi yang sama bisa diperoleh hasil yang berbeda-beda. Yang kita inginkan adalah hasil yang paling maksimal. Jadi bukan hanya masalah benar dan salah, namun carilah yang memberi manfaat maksimal.

Creativity

Mendidik kereativitas mahasiswa bisa dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu membiasakan observasi, biarkan mereka bertanya, arahkan mereka berfikir, suruh mereka mencoba, minta mereka merumuskan, dan tugaskan mereka untuk menyampaikan ke orang lain.

Intuitive Sharpness

Percayalah pada intuisi karena biasanya intuisi selalu mengarahkan pada yang benar dan cocok walaupun kita tidak memiliki data yang lengkap. Ini yang disebut Blind Zone (Mystery) dalam buku Ian Golding, Age of Dicovery tahun 2016.

Decision Support System

Saat ini kita dihadapkan pada Global Uncertainty dalam bidang teknologi, geopolitik, ekonomi, dan politik. Untuk itu, dibutuhkan sebuah decision suport system untuk mengolah data yang besar dan membantu mengambil keputusan.

Tentang Pendidikan

  • Penyakit sosial saat ini adalah kemiskinan, ketidaktahuan (kebodohan), dan keterbelakangan peradaban. Dibutuhkan sebuah rekayasa sosial untuk masalah tersebut yaitu pendidikan.
  • Melihat kasus penggusuran sebelum siswa menghadapi ujian -> Hidup itu tidak cukup hanya kebenaran, namun perlu juga kebaikan dan keindahan. Istilah lainnya adalah Logika, Etika, dan Estetika.
  • Konsistenlah dengan prestasi walaupun sedikit dan kecil.
  • Beberapa skill yang dibutuhkan dalam lapangan pekerjaan saat ini adalah problem solving, team working, communication, critical thinking, dan creativity.
  • Sebuah kampus sebaiknya memiliki tech lead dengan model possitive sum game (konvergensi sumberdaya) untuk mencapai target.

2 rumus yang bisa digunakan untuk mempercepat perubahan ke arah yang lebih baik yaitu:
a. Phytagoras: Z<X+Y, daripada menempuh X kemudian Y, lebih baik potong dengan mengikuti jalur Z
b. Percepatan: s(t)=Vo.t+0,5.a.t.t, ketika kita sudah tertinggal dalam Vo (start awal), maka ada kesempatan untuk mengejar dengan memanfaatkan variabel percepatan a. a itu sendiri adalah perubahan kecepatan terhadap waktu. Kata kuncinya disini adalah perubahan. Paradoksnya, jika kita terus berubah akan dianggap tidak konsisten, namun jika tidak berubah maka tidak akan ada peningkatan. Begitu juga dengan kampus, walaupun kampus lain sudah puluhan tahun berdiri, kita bisa mengejar dengan memanfaatkan percepatan-percepatan

Power of Habit

Dahulukan yang benar, prinsip, dan substantif. Biasakan secara perlahan, setelah menjadi habit dan stabil, alokasikan energi pada habit baru lagi.


Berikut link file power point dan rekaman sharing (maaf kualitas rekamannya rendah -_-!)

Semua materi ini bersifat copyleft (buka copyright) namun penulis merasa inilah hasil buah pikiran dan ilmu yang beliau ajarkan untuk dapat direnungkan dan diaplikasikan.

IMG-20160907-WA0012[1]

2 comments to “ABEC 2016: Membangun Budaya Akademik untuk Menyiapkan Generasi 2045”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *