Trik saya ketika tes TOEFL, TOEP atau sejenisnya

Tes TOEFL, TOEP atau sejenisnya sering dijadikan pra syarat untuk berbagai program seperti program penerimaan pegawai, beasiswa ,kenaikan pangkat, dan evaluasi kemampuan.

Berikut beberapa trik yang saya gunakan ketika mengikuti tes TOEFL ataupun TOEP:

A. Listening Section

1. Saya biasanya memperhatikan posisi speaker dan memilih tempat duduk yang paling dekat dengan speaker agar audio bisa terdengar jelas.

2. Jika tempat tes menggunakan tape deck, maka sebaiknya pilih posisi duduk paling depan karena biasanya tape deck akan diletakkan di meja depan.

3. Jika tempat tes menggunakan speaker yang di gantung di dinding, maka posisi duduk optimal ada pada arah speaker tersebut.

4. Namun jika posisi duduk sudah ditentukan berdasarkan nomor peserta, hal ini tidak bisa dilakukan.

5. Jika tempat tes menggunakan bantuan headset, maka sebaiknya persiapkan headset milik sendiri untuk kenyamanan dan jaminan kualitas audio.

6. Sebelum memulai ujian, cek menu volume di komputer untuk memastikan headset bekerja dengan baik. Putar sampel lagu yang ada di folder Libraries/Music kemudian sesuaikan intensitas volume.

7. Ketika mendengarkan audio diputar, saya sering memejamkan mata untuk meningkatkan fokus. Menurut teorinya, jika ingin fokus pada suatu indra dari panca indra, kita bisa menonaktifkan indra yang tidak diperlukan. Sehingga, ketika ingin fokus pada indra pendengaran, indra penglihatan bisa ditutup dulu. Ketika kemudian dibutuhkan (soal dari audio selesai), buka kembali mata untuk melihat opsi jawaban yang ada.

8. Secara umum, proses dan petunjuk ujian TOEFL dan TOEP sudah baku. Untuk kasus paper based test, saya mengambil celah waktu ketika audio memutar Opening dan Direction untuk melihat opsi jawaban. Hal ini saya lakukan untuk memahami opsi dengan baik. Sehingga ketika audio soal diputar, saya sudah memiliki pengetahuan awal akan kemungkinan jawaban.

9. Beberapa kata yang disebutkan terkadang tidak begitu jelas. Jangan terjebak pada kata-kata yang mirip pada opsi jawaban.

10. Jangan terpaku dengan intonasi pecakapan pada audio. Terkadang ekspresi marah, kaget, dan bersemangat bisa menjebak.

11. Untuk jenis audio berupa ceramah, pidato, pengumumman yang berdurasi panjang, saya sering menganggap sedang menonton sesuatu sehingga bisa membantu menggambarkan suasana dan inti dari yang disampaikan pembicara.

B. Structure Section

1. Tidak ada trik yang lebih baik daripada berlatih.

2. Dibandingkan buku, saya sendiri memilih latihan menggunakan software tes. Software ini banyak tersebar di internet baik berbayar ataupun gratis.

3. Saya biasanya memilih software yang membahas soal ketika selesai dikerjakan. Sehingga saya bisa sekalian belajar teorinya.

4. Jadi pola yang saya lakukan adalah mengerjakan 1 paket tes-mencatat nilai-melihat pembahasan-mengerjakan paket tes yang sama esok harinya-membandingkan hasil tes.

5. Pola ini akan mengukur sejauh mana saya memahami pembahasan soal tes. Sebisanya, ketika menjawab soal saya sekaligus mengingat argumentasi kenapa jawabannya seperti itu. Jadi, saya tidak menghapal kunci jawabann, melainkan memahami teorinya.

6. Software tes juga sangat membantu mengukur waktu tes dan memilih tingkat kesulitan paket soal.

7. Karena tidak menggunakan sistem minus, tidak ada salahnya bergantung pada keberuntungan ketika memang tidak tahu jawabannya.

8. Pada software tes yang bagus, kita malah dibantu dengan informasi pada topik structure apa kita lemah.

C. Reading Section

1. Agar efisien, saya tidak memulai dari membaca tulisan. Saya mulai dari membaca soal karena tidak semua tulisan akan ditanyakan dalam soal.

2. Namun kadang di soal pertama, yang ditanya adalah main idea/topic yang mengharuskan kita membaca semua tulisan. Untuk itu, saya mengerjakan soal tipe ini paling akhir.

3. Saya dahulukan soal yang secara spesifik menunjukkan bagian bacaan seperti specific line, bold or italic word, dan marker.

4. Setelah menangkap gambaran besar isi tulisan, baru saya cocokkan dengan jawaban di soal yang menanyakan main idea/topic.

5. Terkadang ada soal yang menanyakan padanan kata. Banyak membaca dan menulis dalam bahasa Inggris akan sangat membantu untuk tipe soal ini.

Oo…ya, saya juga termasuk kategori orang yang tidak belajar lagi pada 24 jam sebelum tes. Pada saat 24 sebelum tes, saya malah mengerjakan hal lain yang saya senangi dan seringnya kegiatan otak kanan.

Demikian trik-trik yang saya gunakan ketika menjalani tes TOEFL, TOEP atau sejenisnya. Doanya tetap sama, semoga ilmunya bermanfaat.

Senang sekali jika pembaca juga mau berbagi hal terkait yang sama. Silahkan tuliskan di bagian komentar.

5 comments to “Trik saya ketika tes TOEFL, TOEP atau sejenisnya”
  1. 1. untuk TOEP kan tidak ada structure section, betul?
    2. untuk TOEP juga kita dikasih komputer dan bserikut headset nya kan?
    3. untuk listening, kita gak bisa balik lagi di nomor awal jadi ya harus ikutin waktu, kalau reading kita gak harus ikutin waktu spt listening (kita bisa balik lagi ke soal sebelumnya, misalnya soal no 4, walau kita sdh sampe ke soal no 25), betul kan?
    4. trm ksh sharing point2nya diatas, semoga saya nanti berhasil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *