Kesalahan Penulisan Laporan Proyek Akhir

Proyek akhir merupakan salah satu tahapan penting bagi mahasiswa untuk menyelesaikan kuliah di Politeknik Caltex Riau. Proses pengerjaan proyek akhir dimulai dari penentuan judul, pembuatan proposal, seminar, pengerjaan proyek akhir, seminar hasil, dan sidang akhir. Dalam proses pengerjaan ini, mahasiswa diwajibkan menuangkan apa yang telah dikerjakan dalam bentuk laporan proyek akhir. Laporan berisi latar belakang, tujuan, manfaat, tinjauan pustaka, dokumentasi perancangan, implementasi, pengujian, dan analisa dari proyek akhir yang dibuat. Pada tulisan kali ini, penulis akan membahas beberapa kesalahan penulisan laporan proyek akhir yang sering penulis temui ketika memeriksa laporan proyek akhir. Bagi pembaca yang memiliki pengalaman yang sama, senang sekali jika bisa berbagi untuk menambahkan pengalamannya pada bagian komentar.

kesalahan penulisan

Tentang kata, kalimat, dan paragraf

Kesalahan penulisan 1: yang asing seharusnya miring
Ketika menggunakan kata yang bukan berasal dari bahasa Indonesia, maka ada baiknya berusaha dulu untuk mencari padanannya ke bahasa Indonesia. Jika tidak ada atau dirasa kurang “kena” ketika menggunakan bahasa Indonesia, maka diperbolehkan tetap menggunakan istilah asing tersebut. Dengan syarat, tekan kombinasi tombol CTRL+i di keyboard-nya untuk kata tersebut.

Kesalahan penulisan 2: huruf besar dan huruf kecil
Aturan umumnya, huruf pertama di awal kalimat harus menggunakan huruf besar. Singkatan menggunakan huruf besar. Nama orang, kota, negara menggunakan huruf besar. Cek lagi buku Bahasa Indonesia-nya untuk aturan khusus lainnya.

Kesalahan penulisan 3: ditampar nempel ga’?
Itu pertanyaan salah satu dosen disini, “ditampar nempel ga’?” Penggunaan “di” dalam sebuah kata memiliki dua fungsi. Fungsi pertama, “di” sebagai imbuhan. Contohnya: dimasukkan, dimakan, ditampilkan, dan ditampar. Untuk fungsi ini, “di” sebagai imbuhan melekat pada kata pendampingnya. Fungsi kedua, “di” sebagai penunjuk. Contohnya: di atas, di rumah, di Zimbabwe. Untuk fungsi kedua ini, “di” dipisahkan dengan kata pendampingnya.

Kesalahan penulisan 4: KBBI
Menggunakan sebuah kata, ada baiknya melakukan pengecekan ke Kamus Besar Bahasa Indonesia. Yang benar analisa atau analisis, persentase atau prosentase, mengkelola atau mengelola. Bagi yang tidak punya kamus tebalnya, bisa mengakses kbbi.web.id.

Kesalahan penulisan 5: singkatan (dikurung)
Terkadang, kita perlu memasukkan singkatan dalam sebuah tulisan. Sebagai contoh Negara Kesatuan Republik Indonesia disingkat menjadi NKRI. Maka, ketika menggunakan singkatan ini dalam sebuah tulisan, ditampilkan dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bukan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Kesalahan penulisan 6: penggunaan Anda dan Saya
Dalam penulisan ilmiah, biasanya digunakan kalimat pasif. Semua subjek seperti anda, saya, dan penulis ditiadakan. Jika terdesak, diperbolehkan menggunakan frasa “pada penelitian ini” atau “laporan ini dibagi atas”.

Kesalahan penulisan 7: kalimat-kalimat yang melelahkan
Konon, sebuah kalimat yang baik adalah kalimat yang bisa dibaca tanpa harus kehabisan nafas. Ada aturan yang menyebutkan maksimal 15 kata. Ada yang terstruktur pada subjek, prediket, dan objek saja. Ada pula yang menyarankan membaca kalimat yang sudah dibuat dengan suara nyaring sehingga kebutuhan akan nafas bisa terukur. Coba baca dengan suara nyaring satu kalimat contoh berikut:

“Oleh karena dibutuhkan lebih dari satu proxy untuk mengelola banyaknya sumber data yang diakses maka dibuatlah sebuah sistem proxy bertingkat/penggunaan lebih dari satu proxy (Multi-level Proxy) untuk menjadi jalur akses ke alamat internet dan bisa merespon banyaknya permintaan dari client yang menggunakan aplikasi squid untuk menyimpan data dari hasil browsing seperti file image, script, video, atau audio di hard disk local agar browser tidak perlu mengambil data secara langsung dari internet.”

Melelahkan?

Kesalahan penulisan 8: paragraf yang mengulang isi tabel
Jika sebuah tabel sudah cukup jelas menunjukkan isinya, maka akan mubazir sebuah paragraf untuk mengulang lagi isi yang sama. Jangan jadikan solusi ini untuk memperbanyak halaman laporan. Sebaiknya, gali lagi apa yang bisa diceritakan. Bisa dari sisi perbandingan antar kolom/baris. Bisa dari sisi kesimpulan yang diambil. Bisa pula dari analisa terhadap perubahan satu parameter terhadap isi tabel secara keseluruhan.

Tentang gambar dan tabel

Kesalahan penulisan 9: Tabel dan gambar dirujuk dalam tulisan
Setiap tabel dan gambar dalam sebuah tulisan ilmiah memiliki nomor penanda. Selain sebagai penanda urutan tampilnya tabel/gambar, nomor ini juga berfungsi sebagai kode panggil di dalam tulisan. Jika di dalam paragraf memerlukan pembaca untuk melihat tabel/gambar, maka nomor tabel/gambar ini dicantumkan.

Selain itu, penyebutan nomor tabel/gambar juga menunjukkan kesatuan tulisan sehingga tabel/gambar yang ditampilkan tidak berdiri sendiri. Apalagi ada tabel/gambar yang tidak ada ceritanya sama sekali.

Manfaat lain penomoran ini juga untuk menghindari penggunaan frasa “di bawah ini” / “di atas”. Jika tabel/gambarnya sudah pindah ke halaman lain, maka bagian bawah/atas mana yang disebut?

Perlu juga dicek kembali nomor yang tercantum pada tabel/gambar sesuai dengan nomor yang dirujuk dalam tulisan.

Kesalahan penulisan 10: Hati-hati margin
Sering pula ditemukan ketika sebuah tabel/gambar ditampilkan dalam sebuah tulisan, tabel dan gambarnya melewati margin dari laporan itu sendiri. Jika tidak teliti, bisa saja sebagian tabel/gambar terpotong dan menampilkan informasi yang tidak lengkap.

Kesalahan penulisan 11: Daftar tabel dan daftar gambar
Kurang telitinya mengelola caption gambar/tabel bisa mempengaruhi susunan isi daftar tabel dan daftar gambar. Sering kali dari gambar pada Bab 2 dimulai dari Gambar 2.4 atau setelah Gambar 3.2 langsung ke Gambar 3.6.

Kesalahan penulisan 12: Print screen yang terlalu
Menampilkan gambar membantu menjelaskan sesuatu. Namun, perlu diperhatikan sebarapa besar dan detail sebuah gambar seharusnya ditampilkan. Terutama untuk gambar yang berasal dari proses print screen. Jika fokusnya pada tampilan aplikasi yang berada di tengah layar, maka tidak perlu print screen semua layar desktop. Caranya bisa menggunakan fasilitas Snippet View atau tahan tombol ALT ketika menekan tombol print screen di keyboard.

Tentang Bab dan Sub-Bab

Kesalahan penulisan 13: satu subbab satu paragraf
Sering ditemui dalam tinjauan pustaka beberapa subbab yang akan membahas dasar teori yang dijadikan rujukan. Sayangnya, isi subbab ini hanya 1 paragraf yang terdiri dari 3 atau 4 kalimat. Kalimat pertama definisi, kalimat kedua contoh, kalimat ketiga merujuk pada gambar yang menampilkan logo. Sayang sekali, seharusnya sebuah subbab dirancang dengan detail seperti apa isinya. Jika tidak memerlukan subbab maka gabungkan saja dan ceritakan saja seperti paragraf biasa.

Kesalahan penulisan 14: Judul subbab di tepi halaman
Ini cuma ketelitian finalisasi laporan. Ada baiknya setelah semua terasa sempurna, buka lagi halaman demi halaman dan periksa posisi subbab. Akan terasa janggal ketika hanya menemukan judul subbab dibaris terakhir sebuah halaman. Sebaiknya dipindahkan ke halaman berikutnya.

Kesalahan penulisan 15: Subbab terlalu dalam
Dalam perancangan sebuah bab, usahakan tidak memiliki subbab yang melebihi 4 level. Pada beberapa panduan, setiap kenaikan level subbab akan mempegaruhi seberapa “menjorok” paragraf isi subbab tersebut. Jika sampai pada 2.1.3.4.2.1 maka terbayang setengah halaman kosong secara vertikal. Apalagi ketika ditampilkan dalam daftar isi.

Yang lain yang belum punya kategori

Kesalahan penulisan 16: Cek panduan PA untuk rujukan
Kesalahan lain adalah berkreasi dalam menuliskan rujukan ketika penulisan. Seharusnya, merujuk pada panduan PA yang sudah disepakati dan bukan merujuk pada laporan senior. Di dalam panduan, diatur bagaimana format penulisan rujukan berdasarkan jenis rujukan seperti jurnal, paper, buku, sumber online, dll.

Kesalahan penulisan 17: Daftar pustaka tidak sesuai abjad
Bagian paling mudah dalam pengecekan laporan PA adalah bagian daftar pustaka. Jika sudah ditemukan urutan yang tidak sesuai abjad dari A ke Z, maka pasti akan diberi catatan perbaikan.

Kesalahan penulisan 18: Angka atau huruf
Dalam hal isi laporan yang memerlukan poin-poin, ada dua jenis umum yang digunakan; menggunakan angka atau menggunakan huruf. Teorinya, angka digunakan ketika poin-poin tersebut harus berurut dan tidak bisa dibolak-balik urutannya. Huruf digunakan ketika poin-poin tersebut tidak terikat satu sama lain dan mungkin untuk diubah urutannya.

Kesalahan penulisan 19: Nomor halaman
Entah mengapa, bagian nomor halaman sering hilang ketika laporan sudah di-print. Mungkin printer-nya lupa.

Semoga dengan adanya tulisan ini bisa membantu mahasiswa dalam memeriksa kembali laporan proyek akhir yang sudah dibuat. Sehingga kualitas proyek akhir juga semakin baik. Aamiin.

3 comments to “Kesalahan Penulisan Laporan Proyek Akhir”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *