Semester Kedua (Part 1): Kenapa pengen jadi dosen?

Kadang, dalam kegelapan mati listrik ada pencerahan.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Beberapa minggu kemarin, kota tempat tinggal saya sedang sering dilanda mati listrik. Alasannya klasik, musim kemarau dan minimnya hujan menyebabkan pasokan air di PLTA menurun. Akibatnya, listrik yang bisa dibangkitkan terbatas dan harus dijatah untuk setiap kecamatan. Mati listrik bisa satu kali, tiga kali, bahkan lima kali sehari melebihi dari rutinitas minum obat.

Satu kebiasaan saya dan istri ketika mati listrik adalah menghabiskan waktu keluar rumah. Kadang ke Mall, lebih sering cari sate atau martabak. Kami bisa menghitung berapa jam kami harus keluar rumah. Sehingga ketika kami sampai di rumah, listrik telah hidup kembali.

Namun, pada hari itu, hitungan kami salah. Sesampainya di rumah, listrik masih mati dan kami masih bergelap-gelapan. Entah dari mana mulai pembicaraannya, istri bertanya: Kenapa pengen jadi dosen? Dalam gelap itu pula, saya berpkir jawaban serius atas pertanyaan itu. Jawaban tersebut saya susun seperti cerita dalam pidato favorit saya pada acara Wisuda di Princeton oleh Bapak Pemarah nan Mencintai Pekerjaannya, Steve Jobs.

Cerita pertama tentang tiga dosen.

Dosen pertama saya temui pada semester awal menempuh sarjana. Sudah lumayan berumur, namun badannya tetap tegap. Dari cerita senior, dosen yang satu ini tegas tapi tetap suka bercanda. Beliau mengajar mata kuliah Dasar Sistem Kontrol. Menurut saya, mata kuliah ini cukup berat. Banyak simbol-simbol yang belum pernah saya lihat dan konsep waktu yang dirubah menjadi frekuensi. Namun, beliau seolah bisa menangkap kesulitan kami-kami yang baru tamat SMA ini. Beliau menyederhanakan penjelasannya sehingga menjadi ‘potongan-potongan’ kecil yang bisa kami ‘gigit’. Walaupun terkadang kami masih ‘tersedak’, beliau dengan senang hati mengulang dalam bentuk ‘potongan’ lain.

Dosen kedua, baru selesai S3 dari Jepang. Bertemu pada tahun kedua atau ketiga kuliah. Tinggi, sedikit sipit, dengan senyum tipis ketika ‘mengerjai’ mahasiswanya. Gaya mengajarnya seperti guru SMA, ‘menyuapkan’. Usut punya usut ternyata bapak ini juga mengajar di bimbel anak SMA. Sepertinya, gaya mengajar bimbel terbawa ke kampus. Positifnya, lebih mudah materi Rangkaian Digital dan Sistem Komunikasi Dasar untuk diserap. Yang saya ingat, Bapak ini juga sering membolak balik logika soal, sehingga mudah bagi saya untuk memahami latihan yang diberikan.

Dosen ketiga, pembimbing Tugas Akhir saya. Dosen muda ini saya temui pada mata kuliah pilihan Sistem Cerdas. Karena tidak banyak yang mengambil mata kuliah ini, sistem kuliahnya lebih seperti diskusi 1 dosen dengan enam/tujuh mahasiswanya. Lebih akrab dan lebih dekat. Dosen muda ini tidak duduk di meja depan saat menjelaskan. Dia duduk setara dengan kami, menggunakan bangku Chitose, dan kami membuat setengah lingkaran mengelilinginya. Kami mengerjakan soal dan simulasi langsung dihadapannya.

Ketika akan menjawab pertanyaan kenapa pengen jadi dosen, saya berpikir sejak kapan saya ingin jadi dosen. Gambaran tiga dosen ini tiba-tiba muncul di benak saya. Sepertinya, pada sosok tiga dosen ini saya melihat sebuah pekerjaan yang sederhana namun keren.

Pada yang pertama, pekerjaan dosen seperti memudahkan orang lain untuk mendapat ilmu yang sudah kita punya. Hebatnya lagi, apa yang beliau punya tidak berkurang. Pada yang kedua, pekerjaan menjadi dosen tidak kaku namun fleksibel mengikut pada style individu dengan tujuan tetap untuk mempermudah serapan ilmu. Pada yang ketiga, hubungan antar pengajar dan yang diajar hanya tentang siapa yang lebih dahulu mendapat ilmu. Tidak penting untuk meninggi, tidak bermanfaat untuk pamer, dan tidak berusaha menggunakan kata-kata yang membingungkan.

Cerita kedua tentang ilmu yang bermanfaat.

Pada H.R. Muslim No. 1631 disebutkan bahwa “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh”.

Hadist ini saya kemukakan ketika diinterview untuk menjadi seorang dosen. Ketika itu, saya juga ditanya, kenapa ingin menjadi dosen? Saya menjawab, berdasarkan hadist tersebut, pengajar seperti dosen adalah profesi yang strategis untuk investasi amal. Setiap ilmu yang diajarkan untuk kemudian dimanfaatkan akan mengalirkan amal kepada si pengajar. Begitu seterusnya, sedikit banyak amalnya akan terus mengalir.

Jujur saja, jawaban ini sama sekali tidak saya rencanakan. Begitu saja keluar dari mulut saya. Alhamdulillah, saya diterima menjadi dosen dari hasil wawancara ini. Orang-orang yang mewawancara saya sekarang menjadi rekan kerja saya. Semoga jika suatu hari semangat saya dalam pekerjaan ini agak turun dan lalai, mereka mau mengingatkan momen ini kembali.

Jadi itulah alasan yang saya ingat untuk menjawab kenapa saya pengen jadi dosen. Akan tetapi, dibalik strategisnya investasi amalnya, melekat pula tanggung jawab untuk memastikan ilmu yang saya berikan itu benar dan tidak mengada-ada. Apa yang saya berikan sudah betul-betul saya pahami. Mudah-mudahan saya jauh dari rasa malu dan angkuh untuk mengakui didepan mahasiswa saya ketika saya lupa, tidak yakin, dan sedang tidak 100%.

Cerita yang ketiga tentang dosen yang bahagia.

Ada sosok lain yang saya idolakan dalam mencintai pekerjaannya. Nama Bapak tersebut, Ridwan Kamil. Dalam sebuah interview, cita-cita Bapak ini pada awalnya adalah untuk menjadi Arsitek yang bahagia. Dalam interview tersebut, dipaparkan detail seperti apa definisi cita-cita tersebut dan bagaimana mencapainya. Dari interview tersebut, saya pun terinspirasi untuk bercita-cita untuk menjadi dosen yang bahagia.

Jadi, untuk menjawab kenapa saya pengen menjadi dosen, maka jawabannya adalah karena saya bercita-cita menjadikan profesi dosen sebagai salah satu sumber kebahagiaan.

Dosen terikat dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Dengan demikian, seorang dosen yang bahagia adalah seorang dosen yang bisa menikmati proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Bahagia ketika bisa berdiri didepan kelas, membuka kelas dengan tersenyum, menanyakan kabar mahasiswa, dan mengaitkannya dengan situasi akhir bulan. Bahagia ketika mengulang-ulang percobaan agar hasilnya dituliskan kedalam paper untuk dipublikasikan. Bahagia ketika mendapat tugas pengabdian menjadi juri lomba SMA, melihat muka-muka grogi ketika presentasi.

Inilah cita-cita saya. Per minggu, merancang materi kuliah, mengakali agar mahasiswa tetap fokus dan ‘tergerak’, dan membuat prosesnya tetap menyenangkan. Per bulan, memperbaharui log penelitian walaupun sering tidak sesuai time line. Per surat tugas, mengunjungi daerah lain, dinas sosial, dan sekolah-sekolah. Bahagia dalam proses-proses ini.

 

Jawaban ini berakhir dengan sebuah pelukan dari sang istri. Saya ucapkan terima kasih padanya yang telah mau mendukung profesi saya sebagai dosen. Yang katanya duitnya tidak bisa melimpah, namun dia jawab dengan cukup dan alhamdulillah tidak kekurangan. Yang dipusingkan orang dengan angka-angka rupiah, namun dia menceritakan tentang komponen berkah. Yang dibandingkan dengan pekerjaan lain yang seharusnya bisa saya dapatkan dengan gelar Master, namun dia jawab dengan binar mata ketika saya ceritakan kejadian-kejadian lucu di kampus.

Cukuplah saya ditawari kerja di bidang energi oleh personal asistant salah satu Bos perusahaan energi, yang kemudian saya jawab “Nggak Mas, cita-citanya jadi dosen”. Kalau saya ingin ukur berapa ‘harga’ saya jika tidak menjadi dosen, saya rasa itu jawaban paling mahal yang saya berikan untuk sebuah tawaran kerja.

Inilah pencerahan saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *