Tipe-tipe Penguji Sidang Proyek Akhir (di PCR)

Minggu-minggu sidang proyek akhir baru saja berlalu di Politeknik Caltex Riau (PCR). Pada minggu tersebut, tidak hanya mahasiswa yang sibuk
mempersiapkan sidang. Dosen juga ikut sibuk mengecek laporan demi menjaga kualitas lulusan. Ketika proses sidang, tidak jarang ada dua dan tiga
sidang berjalan paralel sehingga dosen nampak setengah berlari berpindah ruangan. Whatsapp grup dosen saling bersahut-sahutan yang isinya terkait
proses sidang: Bapak/Ibu A ditunggu di Ruangan 330 ya; Bapak/Ibu silahkan memulai sidang terlebih dahulu; Bapak/Ibu, saya izin telat ya;
Bapak/Ibu, mahasiswanya mana ya? 😀

Setelah menjalani belasan sidang proyek akhir, penulis ingin berbagi cerita tentang tipe penguji ketika sidang proyek akhir. Mungkin cerita ini
juga berlaku di kampus lain, namun pada tulisan kali ini mari kita fokus di PCR dulu. Mudah-mudahan cerita ini bermanfaat bagi mahasiswa PCR sehingga bisa mempersiapkan sidang proyek akhir dengan lebih baik.

Setidaknya, ada 9 tipe penguji sidang.

1. Kesesuaian tata tulis dengan panduan proyek akhir
Penguji yang terlibat dalam penyusunan panduan proyek akhir biasanya fokus pada tata tulis laporan. Tipe penguji sidang ini khatam sekali isi
panduan proyek akhir. Mulai dari spasi, margin, jenis dan ukuran font, penomoran sub-bab, tabel dan gambar, nomor halaman, dan format daftar
pustaka. Mahasiswa sendiri tidak bisa berkata apa-apa jika mendapat penguji tipe ini. Hanya pasrah dan doa pelindungnya.

Polanya sederhana. Jika laporan dibuat dalam waktu mendesak, tata tulis otomatis berantakan. Tipe penguji seperti ini dengan mudah mencorat-coret
laporan pada setiap halaman.

Saran saya, usahakan finalisasi laporan tidak dalam keadaan mepet. Jika perlu, minta tolong teman untuk mengecek tata tulis. Secara psikologis, pembuat laporan akan sulit menemukan kesalahannya sendiri. Maka, sudut pandang orang lain bisa membantu menemukan kesalahan tersebut.

Biasanya, tipe penguji sidang seperti ini satu paket dengan tipe penguji yang mengecek penggunaan istilah yang sesuai dengan KBBI, penggunaan
imbuhan, dan penggunaan kata bahasa asing yang seharusnya di-italic. Solusinya, dengan kemajuan dunia Internet, KBBI sendiri sudah tersedia dalam bentuk situs. Situs KBBI bisa diakses melalui kbbi.web.id.

2. Keselarasan benang merah penelitian
Tipe penguji sidang ini mengecek hubung kait antara komponen latar belakang-masalah-tujuan-manfaat penelitian. Istilahnya benang merah. Ibarat sebuah film, cerita awal, konflik, penyelesaian, dan penutupnya selaras. Tipe penguji sidang ini akan menanyakan setiap komponen dan mengecek kesesuaian cerita.

Jika ada hal yang kurang begitu nyambung, biasanya penguji akan menanyakan cerita versi mahasiswa. Jika masalahnya ada pada kesulitan menuliskan dalam bentuk yang selaras, maka disarankan untuk ditulis ulang. Akan tetapi, jika mahasiswa malah membuat cerita menjadi lebih rumit maka efeknya beragam. Bisa jadi penguji membuatkan cerita versinya sendiri yang jauh berbeda dengan ide mahasiswa. Bisa juga penguji memodifikasi cerita mahasiswa sehingga bisa lebih rapi. Kedua efek ini jelas membuat pekerjaan revisi menjadi berat.

Saran saya, latihan bercerita mengenai penelitian yang dibuat. Buat draft penjelasan dalam bentuk sesederhana mungkin. Kemudian, ceritakan ke
orang awam mengenai penelitian yang dilakukan. Ceritakan kepada teman,  atau malah kepada orang tua. Indikatornya, semakin mudah
orang lain memahami apa yang diceritakan maka akan semakin jelas keselarasan benang merah.

3. Plagiarism: paragraf-paragraf copy-paste
Plagiarism tidak bisa ditoleransi dalam sebuah karya ilmiah. Dengan semakin mudahnya mendapatkan sejumlah tulisan dari Internet, sangat menggoda sekali untuk melakukan copy-paste. Begitu pula mahasiswa. Googgle-ketikkan kata kunci-open link in new tab-copy-paste as plain text-3 halaman teori.

Ada tipe penguji sidang yang rela mengetikkan beberapa penggalan kalimat dalam paragraf ke Google. Dengan menambahkan kutip dua di belakang dan
di depan penggalan kalimat, maka kalimat yang mirip 100% dengan mudah ditemukan. Belum lagi kalau penguji punya akses ke aplikasi plagiarism. Hal-
hal seperti ini dengan mudah dilacak. Efeknya, setiap halaman akan mendapat coretan sebagai tanda harus ditulis ulang.

Coba hindari rasa malas untuk membaca sumber referensi. Setelah dibaca, coba tuliskan dalam bahasa sendiri apa yang sudah dipahami. Usaha seperti
ini akan terlihat dari gaya bahasa penulisan. Sebuah tulisan yang diambil dari blog atau wikipedia akan memiliki gaya bahasa yang berbeda dengan
gaya bahasa mahasiswa. Hindari pula menggunakan fasilitas penterjemah dari Google jika sumber referensi berbahasa Inggris.

4. Hal-hal dasar (konsep, perhitungan, logika)
Tipe penguji berikutnya hanya bertanya hal-hal dasar seperti konsep yang digunakan dalam proyek akhir. Contohnya, ada penguji yang bertanya konsep bilangan biner atau pengolahan warna dalam sebuah gambar. Ada pula tipe penguji yang menanyakan hitungan persentase error dalam pengujian. Bahkan, tipe penguji lain menanyakan kenapa sensor cahaya diletakkan di dalam ruangan sementara cahaya mataharinya ada di luar.

Kadang, mahasiswa terlalu memikirkan hal-hal besar dan sulit tentang proyek akhirnya. Sampai pada hari sidang, hal-hal dasar malah diabaikan dan dilupakan. Entah karena grogi atau karena menganggap hal ini remeh, mahasiswa bisa bengong juga ketika ditanya hal ini. Ada yang mencoba
menjelaskan dengan argumen yang berputar-putar, ada yang langsung memproduksi keringat, dan ada yang menatap nanar ke langit-langit.

Saran saya, apapun yang sudah dibuat dalam sebuah penelitian, sampai ke akar-akarnya harus dikuasai. Jelas hubungan antar komponen, alasan
perancangan, dan hitungan-hitungan sederhana. Persiapkan diri untuk semua kemungkinan pertanyaan. Jika perlu, minta pembimbing untuk melakukan simulasi pertanyaan. Terkadang, berdasarkan pengalamannya, pembimbing bisa mendapat gambaran apa yang akan ditanyakan ketika sidang.

5. Rujukan dan daftar pustaka
Setiap rujukan harus ditulis dalam daftar pustaka. Sebaliknya, setiap isi daftar pustaka harus bisa dicari didalam tulisan. Jangan sampai, dirujuk
10 sumber namun di daftar pustaka hanya ada 5. Sebaliknya, ada 30 daftar pustaka, namun di rujukan cuma 4.

Biasanya, penguji akan mulai melakukan pengecekan ketika membaca Bab 2, Tinjauan Pustaka. Cukup menemukan 1 rujukan dan daftar pustaka yang tidak sesuai, maka penguji akan berasumsi mahasiswa tidak serius melakukan rujukan. Ketika sidang, penguji cukup meminta dicarikan rujukan atas nama X di dalam softcopy laporan. Jika tidak ditemukan biasanya mahasiswa menjawab terjadi kesalahan ketika merubah-ubah laporan. Klasik.

Sebetulnya, tidak hanya mahasiswa yang kesulitan menjaga hubungan rujukan dan daftar pustaka. Dosen juga. Hanya saja, telah ada sebuah aplikasi reference manager seperti Mendeley dan End Note. Kedua aplikasi ini membantu sekali mengatur rujukan beserta daftar pustakanya. Dipastikan, apa yang dirujuk, langsung di-update di bagian daftar pustaka. Menggunakan aplikasi ini juga tergolong mudah. Terlebih lagi, Mendeley merupakan aplikasi gratis.

6. Rancangan v.s. Implementasi
Beberapa tipe penguji sidang melakukan pengecekan antara rancangan penelitian dengan implementasi yang dilakukan. Sebagai contoh, sebuah aplikasi yang dirancang dengan tipe Object Oriented Programming (OOP) tiba-tiba bisa saja menjadi Prosedural ketika diimplementasikan. Pertanyaan penguji biasanya apakah mahasiswa paham perbedaan kedua tipe tersebut. Jika paham, maka mahasiswa akan diminta memilih salah satu. Apakah rancangannya yang dirubah atau implementasinya yang disesuaikan. Jika tidak paham, bisa saja penguji akan membantu merombak semuanya.

Coba cek lagi kesesuaian apa yang dirancang dengan bentuk implementasinya. Jika ragu, ada pembimbing yang bisa diajak konsultasi. Namun, jangan terlalu berharap pembimbing memberikan solusi 100%. Bisa saja pembimbing hanya menunjukkan jalan menuju solusi. Usaha lebih  diharapkan dari sisi mahasiswa.

7. Validasi Pengujian
Adapula tipe penguji sidang yang fokus pada validasi hasil penelitian. Tipe penguji sidang ini akan bertanya mulai dari skenario pengujian, proses
pengujian, hasil yang didapatkan, hingga kesulitan-kesulitan selama pengujian. Pertama, hal ini untuk memastikan pengujian sudah benar-benar
dilakukan mahasiswa. Tidak ada cerita yang dikarang dan tidak ada data yang bersifat dummy. Kedua, penguji melakukan pengecekan bahwa pengujian yang dilakukan sudah benar dan sesuai kaidah penelitian. Sehingga, hasil penelitian juga bisa dipertanggungjawabkan.

Dari pengalaman penulis, mahasiswa terkadang membuat asumsi-asumsi yang tidak bisa divalidasi. Hal-hal seperti ini sebaiknya dihindari. Usahakan
ada referensi atau penelitian terdahulu yang bisa dijadikan pijakan. Minimal, dalam pandangan orang awam, hal-hal tersebut masih bisa diterima akal sehat.

8. Kesimpulan dan Saran
Bagian kesimpulan dan saran juga sering menjadi topik pembahasan dalam sebuah sidang proyek akhir. Tipe penguji sidang seperti ini membandingkan
hasil pengujian dengan kesimpulan yang ditarik. Terkadang tidak ada pengujiannya, tapi kesimpulannya ada. Ada pula tipe penguji sidang yang
membandingkan tujuan penelitian yang tercantum dalam Bab 1 dengan kesimpulan. Pertanyaannya, apakah tujuan penelitian sudah tercapai dan terjawab pada bagian kesimpulan.

Untuk bagian saran, biasanya penguji meminta agar saran yang diberikan bisa membuka jalan untuk penelitian baru. Saran juga harus spesifik. Jika
ada metoda atau alat yang bisa diganti atau dikembangkan, sebutkan nama jelas alternatifnya.

9. Judul dan Abstrak
Beberapa penguji sidang juga memperhatikan judul dari sebuah penelitian. Apakah judul penelitian sudah menggambarkan isi dari penelitian? Apakah
nama metoda/algoritma yang digunakan sudah dimasukkan kebagian judul agar judul lebih spesifik? Apakah judul cukup ringkas? Dari pembimbing saya terdahulu, rumus sederhana membuat judul adalah Jenis Penelitian-Membuat Apa-Dengan Apa. Contoh judul proyek akhir saya ketika sarjana dahulu adalah Perancangan dan Implementasi Kamera Penjejak Objek dengan Kendali Logika Fuzzy.

Abstark mungkin hanya berisi 200 kata namun banyak mahasiswa kesulitan merangkum penelitiannya dalam sebuah abstrak. Penulis sendiri sering
menanyakan 5 komponen utama yang harus ada dalam sebuah abstrak penelitian. Komponen utama tersebut adalah Intro-Problem-Solution-Result-Contribution. Kebanyakan mahasiswa yang penulis tanya kesulitan menggambarkan isi abstraknya sendiri sesuai dengan komponen ini.

Penulis rasa 9 tipe penguji sidang ini cukup menggambarkan hal-hal yang sebaiknya diperhatikan mahasiswa ketika akan sidang proyek akhir. Tentunya, masih banyak tipe-tipe lain. Maka dari itu, bagi mahasiswa yang pernah menjalani sidang akhir atau dosen yang sering menjadi penguji, silahkan berkomentar dibagian bawah tulisan ini tentang tipe-tipe penguji sidang lainnnya. Sehingga kita semua memperoleh manfaat dari informasi yang kita bagikan.

Best Regards,

Jum’at pagi

4 comments to “Tipe-tipe Penguji Sidang Proyek Akhir (di PCR)”
  1. Yayayaaaaa,,,, sepertinya semakin ke sini akan bertambah tipe pengujinya pak, silakan diekplore lg, dan ditunggu tulisannya pak,,, hahahaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *