Al Kisah Kompresi Foto

Pada zaman dahulu, pada awal-awal generasi digital, seorang peneliti muda sedang menjalani Long Distance Relationship (LDR) dengan pacarnya. Seperti nasib para pelaku LDR pada umumnya, hanya foto yang menjadi obat rindu. Foto close-up pacar, kulit putih tua namun manis, rambut gelombang terurai, dan gigi rapi mengintip di sela senyum mungil menjadi wallpaper komputernya. Foto tersebut berlatar belakang sebuah gedung yang sengaja agak di-blur agar fokus foto tetap kepada sang pacar berbaju merah. Foto pacar seolah menyemangati hari-hari penelitian yang berat.

Waktu berlalu, rindu menggebu. Si peneliti ingin menambah beberapa foto lagi sekaligus update terkini dari paras sang pacar. Maka, peneliti meminta sang pacar mengirimkan satu foto terbaru sebagai penawar rindu. Pacar peneliti mencoba mengirim sebuah file foto melalui jaringan internet. Foto portrait tersebut beresolusi 720×960 pxls. Dengan color depth 8 bit dalam ruang warna RGB, file foto tersebut akan berukuran RGB x color depth x width x height -> 3 x 8 x 720 x 960. Ukuran file foto tersebut adalah 18662400 bits atau 2.1 MB. Pada zaman itu, ukuran ini cukup besar mengingat sebuah floppy disk hanya mampu menyimpan 1.44 MB saja. Apalagi jika harus dikirimkan lewat internet yang sangat terbatas.

Ketika hal ini diceritakan sang pacar, si peneliti pun mencari akal. Dipandang-pandangnya foto di wallpaper komputernya. Jika resolusi fotonya diperkecil, tentu ukuran file foto tersebut akan jauh berkurang. Namun, kepuasan menikmati foto pacar dengan ukuran 720×960 dibandingkan dengan resolusi seperempatnya, 360×480, tentu akan jauh berbeda. Kalaupun dipaksakan memperbesar menjadi 720×960 setelah diterima, tentu resolusi foto sang pacar akan pecah.

Dipandangnya lagi foto tersebut sambil berfikir. Seandainya kulit sang pacar yang terkena cahaya tidak sedetail sekarang, tentu tidak terlalu mempengaruhi kecantikan sang pacar. Warna kulit yang tidak terlalu kentara bisa dijadikan satu warna kulit yang sama. Begitu pula dengan hitamnya rambut dan putihnya gigi. Warna baju yang merah mencolok pun bisa dirata-ratakan dengan warna merah yang paling dominan. Perubahan pada skala pixel ini tentu tidak bisa dideteksi oleh mata, apalagi terkamuflase oleh cinta. Ide bagus, gumannya.

Peneliti kemudian membuat program sederhana yang mendeteksi komposisi warna tiap pixel untuk kemudian dibandingkan dengan warna pixel disekelilingnya. Jika perbedaan warnanya tidak terlalu signifikan, maka akan dianggap sebagai satu warna untuk satu pixel. Semakin banyak yang bisa dianggap sebagai satu warna, maka semakin kecil ukuran file foto yang bisa didapatkan. Khusus untuk bagian gedung yang menjadi latar belakang, lebih banyak pixel yang bisa dihemat mengingat latar belakang bukan fokus foto dan memang sudah blur dari awal.

Hitung punya hitung ukuran file foto sudah berkurang 34%. Dengan kata lain, ukuran foto hanyak 66% dari ukuran file foto awal.

Peneliti tidak cepat puas dengan hasil yang didapatkannya. Dibukanya lagi buku-buku biologi yang membahas bagaimana mata manusia melihat sebuah warna. Ternyata, mata manusia lebih sensitif pada perubahan kecerahan daripada perubahan warna. Warna-warna bisa ditransformasikan ke domain frekuensi sehingga bisa dipisahkan mana warna yang lebih mempengaruhi mata manusia dan warna yang tidak. Warna yang lebih mempengaruhi mata dijaga baik. Untuk warna yang tidak mempengaruhi, akan dicarikan warna terdekat dengan warna yang mempengaruhi mata. Sehingga, terjadi lagi proses merata-ratakan warna menjadi lebih sederhana.

Selama pengerjaan program yang sederhana ini, peneliti menekan-nekan kain basah ke jidatnya. Aha! cara ini akan dinamakan kompresi karena cara ini sudah bisa menekan ukuran file foto menjadi lebih kecil. Hasilnya, ukuran file bisa turun menjadi 50% dari ukuran foto awal. Ukuran file ini jauh lebih mudah dikirimkan melewati internet.

Cara ini dan proses pembuatan programnnya diceritakan kepada sang pacar. Pacar si peneliti kemudian menduplikasi proses kompresi ini pada foto yang akan dikirim dan berhasil. Semakin banyak warna yang bisa disederhanakan maka semakin tinggi tingkat kompresi yang didapat. Sebagai contoh, pada foto dengan latar belakang dinding berwarna krem, tingkat kompresi bisa diatas 50%.

Akhirnya, pasangan ini mampu menjalani hari-hari LDR nya dengan baik dan berbahagia hingga akhir hayat.

 

The End

*cerita ini hanya rekayasa, tujuannya hanya untuk membuat penjelasan kompresi foto menjadi lebih menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *