Semester Kesatu (Part 1): The Delta Dilema

“Apa metode mengajar yang akan Yoanda terapkan?” Tanya Bapak anggota tim seleksi dosen.

“Saya akan melakukan Pre-Test di awal pertemuan untuk mengukur seberapa jauh pemahaman awal mahasiswa untuk materi yang diajarkan”.

“Apakah penilaian akhir akan diukur berdasarkan delta peningkatan pemahaman atau tetap seperti biasa?” Tanya Bapak itu lagi.

Saya pun kaget. Bapak ini cepat sekali memahami apa yang saya maksud. Ternyata, Bapak ini memang dosen paling senior disini. Jam terbang memang tidak pernah bohong.

“Idealnya memang diukur berdasarkan delta peningkatan, Pak. Tapi, sepertinya implementasi agak merepotkan. Karena saya harus memonitor perkembangan individu setiap mahasiswa. Jadi, penilaian masih berdasarkan pemahaman keseluruhan materi”

Dan saya menyesal menjawab seperti ini.

Ada dilema didalamnya.

Dalam pemahaman saya, konsep Pre-Test sebetulnya berdasarkan pada sebuah prinsip dasar pengajaran. Logikanya, tidak mungkin langsung mengajarkan suatu materi pada mahasiswa yang sudah menempuh 12 tahun pendidikan tanpa tahu seberapa jauh pengetahuan dasar mereka terkait materi yang akan diajarkan.

Dalam perumpamaan, sebuah wadah sudah terisi banyak benda dalam banyak bentuk. Ketika akan diisi benda yang baru, baiknya diketahui dulu seberapa cocok benda baru ini ke dalam wadah yang sudah terisi. Apakah benda baru ini ada kemiripan dengan benda yang sudah ada? Apakah wadah sudah memperkirakan lokasi khusus untuk benda baru ini? Atau benda ini sama sekali tidak pernah diperkirakan oleh wadah sehingga perlu waktu lama untuk mencari lokasi pas untuk benda baru ini.

Dalam kondisi sebenarnya, seorang mahasiswa sudah memiliki banyak ilmu pengetahuan. Ketika akan diberi ilmu baru, baiknya diketahui dulu seberapa cocok ilmu baru ini terhadap kondisi mahasiswa. Apakah ilmu ini ada kemiripan dengan ilmu yang sudah dipahaminya? Apakah mahasiswa sudah mempelajari terlebih dahulu tentang ilmu ini? Atau ilmu ini sama sekali tidak pernah didengar oleh mahasiswa sehingga perlu waktu lama untuk dapat dipahami.

Pre-Test bertujuan mengoptimalkan proses transfer ilmu. Hasil Pre-Test digunakan untuk menemukan cara terbaik untuk mengajar. Jika mahasiswa sudah ada gambaran dan pengetahuan awal, maka proses mengajar bisa lebih fokus pada pendalaman materi yang sudah dipahami dan pengembangan pada materi baru. Variasi contoh pun bisa lebih luas dan menantang rasa ingin tahu mahasiswa. Akan tetapi, jika mahasiswa sama sekali tidak ada gambaran, maka proses mengajar fokus kepada pengenalan dan materi-materi yang tidak terlalu sulit. Contoh-contoh yang diberikan pun harus ringan dan merupakan hal-hal yang tidak asing bagi mahasiswa.

Pre-Test nya sudah saya laksanakan. Menyesalnya, saya tidak menerapkan penilaian berdasarkan delta pemahaman. Saya merasa penilaian yang saya buat tidak adil. Padahal dengan mengukur delta pemahaman, usaha setiap mahasiswa bisa terukur. Pemahaman mereka ketika dievaluasi saat UAS seharusnya diukur dari pemahaman mereka ketika pertemuan pertama.

Sebagai contoh dalam skala 10, mahasiswa A memperoleh nilai 9 ketika UAS padahal ketika pertemuan pertama mahasiswa A ini sudah memulai dengan nilai 7. Delta mahasiswa A hanya 2. Lain lagi mahasiswa B. Mahasiswa B memulai pertemuan pertama dengan nilai 2 dan ketika UAS mahasiswa B hanya mendapat 7. Dengan usaha yang sepaket dengan susah payah, mahasiswa B telah mencapai delta 5. Jadi, siapa yang harus dihargai nilai lebih tinggi?

Dari sudut pandang kompetensi yang harus dicapai, mahasiswa A tentu berhak mendapat nilai lebih tinggi. Mahasiswa A selangkah lagi mendapat 10 sebagai indikator tercapainya semua kompetensi yang diwajibkan. Ketika memasuki dunia kerja, mahasiswa A memiliki bekal kompetensi yang siap untuk hampir semua tantangan pekerjaan.

Sedangkan dari sudut usaha, tentu mahasiswa B harus mendapat nilai yang lebih tinggi. Mahasiswa B telah berusaha mengembangkan dirinya hingga memperoleh nilai 7. Walaupun hanya mendapat 7, mahasiswa B sudah jauh berbeda dengan kondisinya di pertemuan pertama. Dia sudah bisa menegakkan kepala ketika diskusi dengan topik berkaitan. Lebih jauh lagi, jika mahasiswa B meneruskan usaha yang telah dilakukannya, maka mahasiswa ini sangat potensial mencapai nilai 9 seperti mahasiswa A. Hanya saja, prosesnya tentu membutuhkan waktu tambahan diluar satu semester yang telah dilakukan.

Sebuah pemahaman baru saya dapatkan dari pengalaman ini. Konsep yang baik seharusnya diterapkan secara keseluruhan, awal sampai akhir.

Ketika awal wawancara menjadi dosen, saya beralasan repot untuk menerapkan penilaian berdasarkan delta peningkatan. Ternyata, menjadi repot adalah satu paket dalam pekerjaan menjadi dosen.

Repot tidak bisa menjadi alasan untuk ketidakselarasan sebuah awal dan akhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *