Aspek Intrinsik dari Kualitas Video

Lagi nunggu rapat prodi, barusan gerimis, masih mendung, AC ruangan di setel 21’C, apa nggak pengen ngundang Indomie rebus yang telornya 3/4 masak? peperan cabe merah setengah sendok? harum daun bawang dan taburan bawang goreng? kerupuk merah?

Udah kerasa air ludah nambah di mulut? Nah, bersyukur dulu, karna teorinya: meminta->bersyukur- >dikabulkan->bersyukur lagi.

Setelah pada tulisan sebelumnya dibahas salient area pada video, sekarang penulis pindah ke topik kualitas video. Seperti yang sedang tren sekarang, video merupakan salah satu hal yang cukup familiar disekitar kita. Baik dalam bentuk akses www.youtube.com dkk, nonton film di bioskop, ataupun nonton film download-an. Dalam akses dan nonton ini, kualitas video memainkan peran penting menentukan kepuasan penonton dalam menikmati video. Normalnya, kualitas video yang baik menjanjikan terpenuhinya kepuasan penonton dan begitu pula sebaliknya.

Baru-baru ini, perfilman Indonesia diramaikan lagi dengan karya anak bangsa. Judul filmnya dimulai dengan salam dan diakhiri dengan nama kota di China. Nah, penulis berkesempatan menonton film ini. Maka dari itu penulis coba kaitkan aspek kualitas video dengan apa yang penulis rasakan ketika menonton film ini.

Berhubung nontonnya dibioskop, maka penulis yakin film ini tidak akan ada masalah dengan resolusi, frame rate, kedalaman warna, blockiness, jerkiness, dan segala aspek intrinsik dari kualitas video. Yang menjadi perhatian penulis adalah aspek intrinsik dari kualitas video. Aspek intrinsik didefiniskan sebagai faktor yang mempengaruhi kualitas video tapi bukan dari videonya sendiri. Kebanyakan faktor ini berasal dari sisi penonton.

Penulis sangat paham, membuat sebuah film itu susah dan rumit. Tapi, apa yang penulis rasakan jujur bukan bermaksud merendahkan kesusahan dan kerumitan dalam membuat sebuah film. Tapi, yang ingin penulis kaitkan adalah aspek intrinsik yang penulis rasakan.

Sejauh yang penulis ketahui, setidaknya ada tiga aspek intrinsik yang mempengaruhi penilaian kualitas video. Yang pertama disebut viewer interest. Viewer interest terkait dengan minat penonton terhadap konten video yang ditonton. Sebagai contoh, seorang pecinta sepak bola akan sangat tertarik menonton konten pertandingan sepak bola. Walaupun video tersendat-sendat, maka si pecinta sepak bola tetap dengan puas menonton. Berbeda dengan pacar si pecinta sepakbola yang tidak begitu berminat dengan bola. Walaupun si pacar disajikan video pertandingan dengan kualitas HD, maka fokus si pacar tetap cuma menemani dan bertanya “Offside itu apa?”.

Terkait dengan film yang penulis tonton, sebetulnya memang bukan minat penulis menonton konten romansa. Jadilah, penulis dipengaruhi aspek viewer interest ini. Kualitas film yang penulis tonton menjadi berkurang dari sudut pandang penulis. Lebih jauh lagi, penulis malah memperhatikan hal-hal lain yang bukan benang merah film tersebut.

Beberapa hal yang penulis perhatikan antara lain kualitas dubbing yang sangat terasa dibeberapa bagian film. Mungkin ketika dikondisi aslinya direkam, rekaman suara terganggu oleh suara lingkungan (orang dan kendaraan). Jadi diputuskan untuk men-dubbing beberapa bagian. Akan tetapi, proses dubbing-nya hanya untuk merekam percakapan saja. Tidak ada sisipan gema jika sedang berbicara di ruangan, tidak ada gemerisik jaket parasut ketika pemain berbicara sambil berjalan. Sangat terasa tidak alami dan mengganggu.

Aspek yang kedua disebut viewer experience. Sederhananya, kepuasan seorang penonton terhadap suatu video yang ditonton dapat dipengaruhi oleh kualitas video yang telah ditonton sebelumnya. Jika kualitas video yang ditonton sekarang lebih rendah dari kualitas video yang ditonton sebelumnya, maka penonton akan merasa video yang sedang ditonton akan sangat buruk. Walaupun dalam kondisi normal, kualitas video tersebut sebenarnya tidak terlalu buruk. Sebaliknya, jika sebelumnya penonton mendapatkan tontonan kualitas yang buruk, maka ketika sekarang menonton video dengan kualitas yang lumayan, maka penonton bisa jadi sangat puas dengan video yang baru ditonton ini.

Ya, jauh sebelum penulis menonton film romansa ini, penulis menonton film buatan Hollywood dengan kualitas yang sulit penulis cela. Tata cahaya, teknik pengambilan gambar, CGI, dan suara, rata-rata memuaskan. Ketika penulis menonton film romansa ini, maka kualitas yang penulis cari, tanpa sadar, adalah lebih atau sama dengan film Hollywood. Hasilnya, penulis menahan tawa untuk beberapa adegan yang seharusnya membuat terenyuh. Gambar yang bergetar karena pemain film berjalan diatas papan kayu yang juga menjadi tempat kamera berdiri. Gambar bergetar lagi ketika shot orang sholat berjama’ah dan sujud bersamaan. Logika skrip yang terasa dibuat-buat dan agak berlebihan. Konsistensi intonasi percakapan aktris ketika memerankan seorang yang terkena stroke. Semuanya penulis rasakan tanpa perlu konsentrasi lebih terhadap film.

Aspek ketiga yang penulis ketahui adalah viewer expectation. Sebetulnya, aspek ketiga ini mirip dengan aspek kedua. Definisinya adalah harapan penonton terhadap apa yang akan ditontonnya. Jadi jauh sebelum penonton menonton sebuah film, maka didalam kepala si penonton sudah ada suatu standar bagaimana sebuah film tersebut seharusnya ditampilkan. Jika harapan ini dipenuhi, maka penonton cenderung puas terhadap film tersebut. Sebaliknya, jika tidak, maka penonton tidak puas.

Salah contoh kasus viewer expectation yang penulis rasakan adalah ketika shot merekam dua pemain yang saling berdialog dengan posisi pemain pertama didekat kamera dan pemain kedua jauh dibelakang pemain pertama. Sinematografer menggunakan efek blur pada shot ini. Ketika pemain pertama berbicara, fokus ada di pemain yang pertama sedangkan pemain kedua di blur. Normalnya, ketika pemain kedua berbicara, maka pemain kedua akan mendapat fokus, sedangkan pemain pertama di blur. Namun, pada film romansa ini, shot langsung berpindah ke tempat lain ketika pemain kedua berbicara. Viewer expectation juga mempengaruhi penulis ketika memperhatikan gesture dan ekspresi untuk adegan yang seharusnya mengandung makna yang dalam. Akan tetapi, kebanyakan kesesuaian gesture dan ekspresi hanya untuk adegan menangis. Air mata, urat leher, getaran bibir, dan kerutan alis.

Terlepas dari kekurangan ini, beberapa yang sangat penulis sukai dan sesuai dengan ekspektasi penulis dalam film ini diantaranya shot dari bawah air kolam diawal film, shot dari balik jendela, shot dengan tali gorden, dan permainan cahaya pada beberapa adegan.

Tapi apapun itu, tulisan ini bertujuan menginformasikan aspek-aspek intrinsik yang mempengaruhi kualtias video. Contoh-contoh pada tulisan ini bukan bermaksud merendahkan kualitas film Indonesia. Semoga tujuan ini tercapai dan bermanfaat bagi para pembaca.

Jadi Indomie rebusnya gimana nih?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *