Salient Area

Kampus lagi sepi-sepinya. Terlintas untuk mengundang Haji Roma atau acara Dahsyat ke kampus biar rame. Tapi nggak jadi. Mending nulis di blog, topik yang ringan-ringan saja.

Pada tulisan kali ini penulis ingin membahas mengenai salah satu subtopik dalam bahasan kualitas video. Seperti judul tulisan kali ini, subtopik yang dimaksud adalah Salient Area.

Menurut kamus Oxford, kata salient termasuk dalam kategori adjective atau kata sifat untuk sebuah objek. Salient diartikan sebagai bagian paling mencolok atau penting dari sebuah benda. Contoh sederhana, bayangkan seorang badut dengan hidung berwarna merah terang. Maka, hidung badut tersebut adalah salient dari si badut. Tentunya dengan catatan, rambut dan kostum si badut tidak lebih meriah dari warna hidungnya.

clown

Sekarang bayangkan lagi sebuah protret menara Eiffel menjulang ke langit biru Paris dengan pohon-pohon rindang dibawahnya. Pada potret tersebut, beberapa orang sedang berdiri dan berjalan. Walau warna menara Eiffel tidak seperti mencoloknya warna hidung badut, setiap melihat potret tersebut maka perhatian akan fokus ke menara Eiffel. Kurang lebih, begitulah pemakaian kata Salient.

Tulisan ini fokus pada salient area sebagai bagian paling kentara dari sebuah video. Dengan definisi yang hampir sama pada contoh sebelumnya, salient area adalah bagian video yang paling menarik perhatian penonton. Contohnya, ketika menonton siaran berita, dimana terdapat satu atau dua orang pembaca berita, maka penonton cenderung memperhatikan bagian kepala si pembaca berita. Contoh lain, ketika pria-pria menyaksikan permainan sepak bola, maka bola yang bergerak akan menjadi salient area. Kecuali bagi beberapa wanita, sesekali muka pemain bola yang tersorot kamera akan menjadi salient area.

Menurut beberapa penelitian terdahulu yang malas untuk penulis kutip di tulisan ini, salient area memiliki pengaruh ke kualitas video yang ditonton. Sebuah video akan cenderung berkualitas bagus jika salient area pada video tersebut berkualitas bagus. Begitu juga sebaliknya, jika salient area berkualitas buruk maka kualitas video tersebut tidak akan memuaskan penonton. Jadi, prinsipnya sederhana wahai para pengolah video. Lindungilah salient area pada video yang anda buat.

Penentuan salient area dari sebuah video dapat dilakukan berdasarkan empat fitur. Penentuan ini penulis kutip dari penelitian oleh Luo, Yuan, Xue, dan Tian pada tahun 2011 dengan judul Salient Region Detection and Its Application to Video Retargeting yang penulis baca di proposal mahasiswa TA. Empat fitur tersebut adalah warna (spatial), gerakan (motion), pusat gambar (centre of image), dan wajah (face).

Contoh-contoh sebelumnya setidaknya sudah menunjukkan salient area berdasarkan fitur warna, gerakan, dan wajah. Kalau contoh sebelumnya tidak dalam bentuk video, pembaca bayangkan saja ada videonya. Ok? Kita lanjut? Contoh video dengan salient area pusat gambar adalah sebagai berikut. Bayangkan lagi sebuah video dengan view laut, sebuah pulau diujung sana dan ada sebuah perahu nelayan. Pulaunya tidak memiliki warna yang mencolok. Perahu nelayannya juga. Pulaunya tentu tidak bergerak. Perahu nelayannya juga cuma bergerak pelan, sama seperti riak air lautnya. Wajah nelayannya juga tidak terlalu terlihat. Tapi, posisi pulau dan nelayan inilah yang menjadi salient area. Setidaknya begitulah menurut rule-of-three fotografi.

pbexample1

Tentunya perahu nelayan akan terus bergerak menjauhi pulau. Disini, salient area akan terbagi. Sebagian akan tetap tinggal di pulau namun sebagian yang lain bergerak bersama nelayannya. Jadi, salient area tidak harus selalu di objek yang sama atau dengan fitur yang sama. Bedanya tergantung mana fitur yang lebih kuat efek salientnya. Apakah gerak? atau warna? atau wajah? atau malahan pusat gambar? Kajian ini akan sangat bergantung pada jenis konten video dan selera si penonton. Mudah-mudahan akan penulis jelaskan di lain kesempatan.

Apa keuntungan lain mengetahui salient area? Ya, selain sebagai usaha mengontrol kualitas video, salient area bisa digunakan untuk penentuan peletakkan watermark pada video ataupun menyisipkan iklan. Watermark atau penanda video sebaiknya tidak mengganggu kualitas videonya. Sederhananya, jangan meletakkan watermark di bagian salient area.

Untuk iklan, seharusnya diletakkan dibagian salient area, tetapi tentu mengganggu penonton. Kalau diletakkan jauh dari salient area, tujuan iklan tersebut tentu tidak tercapai. Bahkan, penonton tidak tahu di video yang mereka tonton ada iklan. Salah satu solusinya, seperti yang sudah diterapkan pada website www.youtube.com. Iklan berada pada bagian bawah saat penonton memperhatikan seberapa jauh buffer video mereka. Iklan bisa pula diminimize, jika penonton merasa terganggu. Bayangkan, jika konsep ini dikembangkan lebih jauh lagi. Iklan tetap muncul, kualitas video tidak terganggu, penonton sadar ada iklan di video mereka. Mungkin ini yang bisa disebut peletakkan iklan dinamis.

Okelah, sekian dulu pembahasan mengenai salient area pada video. Jika ada salon di pasar, boleh kita menumpang cuci blow. Jika ada komentar, just drop the comment below.

3 comments to “Salient Area”
  1. Pingback: Aspek Ekstrinsik dari Kualtias Video

  2. Pingback: Quality of Service and Quality of Experience

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *